*) Ringkasan dari hasil penelitian dipublikasikan pada Jurnal economicus Volume 1 No.1-Januari 2008. ISSN. 1978-7294. Hak cipta dillindungi
ABSTRACT
Small medium enterprises (SMES) for “Kerupuk” Industries is one of the type works among people of Karadenan village since 1960 these enterprises were manage an inherited from generation to generation.
This article focuses on strategic SMES business on a “Kerupuk Karadenan” through marketing mix.
The result has shown that business strategic developed by correlative based on 1. Positioning product have a correlative with design product, taste and differentiation product; 2. Flexibility in prices; 3. Multi level of distribution channel 4. Informal promotion.
Key words : Kerupuk Karadenan SMES, business development, marketing mix.
I. Pendahuluan
Krisis moneter yang terjadi secara global, membawa dampak pada terganggunya stabilitas berbagai dimensi dan aspek bangsa Indonesia. Kebijakan konglomerasi yang diterapkan sebelumnya, menjadikan bangsa ini tidak memiliki pondasi perekonomian kerakyatan yang kuat.
Sektor usaha kecil dan menengah (UKM) terbukti banyak yang tetap mampu bertahan dan eksis sampai dengan saat ini, walaupun diterpa badai krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Hal ini berdasarkan ketersediaan data hasil pengamatan dampak krisis ekonomi tahun 1998 terhadap 225.000 UKM seluruh Indonesia yang teridentifikasi
Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa keberadaan UKM memiliki tingkat eksistensi yang relatif lebih kuat terhadap berbagai situasi perekonomian bangsa, sehingga dengan demikian diperlukan adanya berbagai strategi untuk mempertahankan dan mengembangkan kegiatan usahanya.
Kelurahan Karadenan sebagai salah satu wilayah di Kabupaten Bogor dengan luas total adalah 404,17 Ha, relatif masih memiliki kekayaan sumber daya alam cukup besar. Hal ini terindikasi dari terdapatnya area perkebunan/pertanian, perikanan (empang), sungai, dan sumber mata air (balong). Salah satu kegiatan usaha masyarakatnya adalah berupa industri rumah tangga kerupuk.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil dan strategi pengembangan usaha dari UKM kerupuk di Kelurahan Karadenan, melalui sudut pandang analisis akademik bauran pemasaran (marketing mix).
II. METODOLOGI
2.1 Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif, penentuan objek penelitiannya adalah UKM Kerupuk Kelurahan Karadenan dengan populasi sebanyak 22 unit. Sampel dipilih secara acak sederhana (simple random sampling) terhadap 10 UKM yang tersebar di berbagai wilayah Karadenan.
Data utama diperoleh dengan cara melakukan observasi langsung (field research) dan melakukan kegiatan wawancara. Data sekunder diperoleh dengan cara penelusuran studi kepustakaan (library research).
2.2 Teknik Analisis Data
Penulis menetapkan indikator-indikator penelitian yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan wawancara pada responden
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Singkat Usaha
Kegiatan usaha ini diasumsikan telah dimulai sejak tahun 1960-an dan mengalami puncak keemasannya adalah pada era 1980 – 1995 dengan jumlah UKM mencapai lebih dari 150 unit. Penulis mengasumsikan hal ini disebabkan oleh kondisi pemasaran yang bagus dan belum tingginya tingkat persaingan pasar pada saat itu. Dalam perjalanannya usaha ini mengalami berbagai hambatan dan perubahan kondisi zaman yang bersifat global, sehingga saat ini hanya tersisa 22 UKM yang tetap eksis.
Jenis kerupuk yang rutin diproduksi adalah kerupuk merah, kerupuk mie, dan beberapa jenis kerupuk lain yang merupakan pengembangan dari kedua jenis kerupuk tersebut. Produksi ini menggunakan peralatan dan perlengkapan yang relatif masih tradisional serta pemanfaatan teknologi yang sederhana
3.2 Analisis Data
a. Perhitungan Break Event Point:
• Nilai BEP:
TR = TC
P.Q = FC + VC
P.16.800 = Rp. 1.500.000 + Rp. 249.180.000
P = Rp. 14.921,42
Hal ini berarti pada saat produk dijual dengan harga Rp. 14.921,42 maka usaha ini mencapai titik impas, tidak mengalami keuntungan maupun kerugian.
• Kapasitas BEP
TR = TC
P.Q = FC + VC
Rp. 35.500 . Q = Rp. 1.500.000 + Rp. 249.180.000
Q = 7061,4 Bal
Hal ini memiliki arti bahwa pada saat produk terjual sebanyak 7061,4 bal (satuan kemasan @ 5 kg), maka pendapatan yang dihasilkan adalah sama dengan total biaya produksi yang dikeluarkan dalam setahun (TR = TC).
b. Waktu Balik Modal
Total investasi yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp. 158.930.000,- diasumsikan akan kembali dalam waktu 3 tahun 10 bulan 17 hari.
c. Perumusan Strategi Produk
Secara umum, strategi produk yang diterapkan oleh UKM dalam menjalankan kegiatan usahanya adalah dengan memproduksi secara rutin produk yang telah memiliki saluran distribusi dan pemasaran dengan baik (kerupuk merah dan kerupuk mie). Sebagai upaya memenuhi keinginan konsumen pada pasar, maka pada saat-saat atau musim-musim tertentu (hari raya) jenis kerupuk yang lain pun dapat diproduksi berdasarkan pesanan dan trend permintaan pasar.
d. Strategi harga produk
UKM menggunakan metode penetapan harga berbasis biaya “Standard Markup Pricing”. Strategi penetapan harga dilakukan dengan cara:
a. Menghitung kebutuhan biaya produksi selama 1 minggu;
b. Asumsi kuantitas produk jadi yang dihasilkan
c. Melihat kondisi pasar, sebagai pertimbangan melakukan markup.
d. Menetapkan persentase markup dari biaya pokok produksi.
e. Perumusan Strategi Distribusi
Produk kerupuk yang dihasilkan dijual melalui tiga saluran yang berbeda namun bersaing satu sama lain, dengan tujuan yang sama yaitu meningkatkan penjualan. Selain pemasaran produk melalui sales/tengkulak, terdapat juga UKM yang langsung memasarkan produk kerupuknya kepada distributor atau agen di pasar, maupun langsung ke konsumen bisnis, dengan harga relatif hampir sama atau dengan selisih harga yang sedikit lebih murah dari yang ditawarkan oleh tengkulak di pasar. Keputusan dalam menggunakan sales/tengkulak dalam penjualan produknya lebih disebabkan pada kepastian penjualan produk pada pasar, dikarenakan para tengkulak telah memiliki pasar sasaran yang tetap.
f. Strategi Promosi
Pada umumnya promosi yang dilakukan oleh UKM kerupuk Karadenan adalah dengan menggunakan promosi melalui pembicaraan dari individu yang satu ke individu lainnya (person to person promotions).
IV. Kesimpulan
a. Strategi produk dilakukan melalui produksi kerupuk dengan rasa, bentuk, dan warna yang khas, mempertahankan positioning produk yang telah melekat erat di benak pelanggan/konsumen, serta melakukan diferensiasi produk.
b. Strategi harga dilakukan melalui penetapan standard markup pricing ± 20% untuk produk baru dan 15 – 18% untuk produk rutin. Fleksibilitas harga jual menjadi hal yang sering harus dilakukan dalam menghadapi kondisi pasar.
c. Strategi distribusi dilakukan dengan menggunakan saluran distribusi berganda, yaitu selain memasarkan langsung kepada distributor, juga mengunakan tenaga para tengkulak/sales, sehingga cakupan distribusi produk dapat lebih luas.
d. Strategi promosi dilakukan secara informal dari individu yang satu ke individu lainnya (person to person promotion). Selain itu telah terdapat UKM yang telah memanfaatkan salah satu ketersediaan media promosi.
DAFTAR PUSTAKA
Anuraga, Pandji dan Djoko Sudantoko. 2002. Koperasi, Kewirausahaan dan Usaha Kecil. Rineka Cipta. Jakarta.
Saladin, Djaslim. 2003. Intisari Pemasaran & Unsur-unsur Pemasaran. Linda Karya. Bandung.
Umar, husein. 2003. Studi Kelayakan Bisnis (Edisi 2). Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
_____________, 2004. Manajemen Pemasaran (Analisis, Perencanaan, Pelaksanaan & Pengendalian). Linda Karya. Bandung.
Anonim . 2006. Data Monografi Kelurahan Karadenan Tahun 2005. Cibinong. Bogor.
_____________, 2006. Laporan Tahunan Kelurahan Karadenan Tahun 2005. Cibinong. Bogor.


Comments
Leave a comment Trackback